Sulitnya Apresiasi Mudahnya Bully, Maha Benar Netizen Dengan Segala Bacotannya

Beberapa hari yang lalu, gue sempat publish opini gue tentang pembullyan dengan object pembulyan yaitu Bowo Tiktok, yang menurut gue dia dibully hanya karena ingin berkarya. Kali ini gue masih bahas hal yang sama. Yoi, pembullyan. Tapi sebelum itu, mungkin sebaiknya kalian baca dulu postingan tentang Bowo Tiktok di blog gue yang judulnya "Antara Bowo, TikTok, dan Netizen Maha Benar", Karena tulisan ini sedikit-banyak bakal nyambung kesitu. Langsung klik aja judulnya, udah gue link kok.

Gue sebenarnya bingung dengan kelakuan netizen. Ya gue tahu gue juga netizen sih, hahaha. Skip. Kenapa netizen lebih gampang, lebih mudah, lebih ringan untuk membully?! Kenapa bullying lebih suka mereka lakukan, seolah-olah setelah melakukan bullying, mereka bakal jadi yang paling keren sedunia akhirat. Bowo, yang pada postingan kemarin udah gue bilang kalau dia hanya berkarya, dibully habis-habis lewat media sosial, bahkan katanya sampai di dunia nyata. Miris kan?! Yang ini bakalan lebih miris lagi.

Beberapa waktu lalu, saat gelaran semifinal AFF U-19 Championship 2018, beribu bahkan berjuta kepala harus tertunduk saat Timnas kebanggaan kita, Timnas Indonesia dibawah asuhan Indra Sjafrie gagal mengulang kejayaan AFF U-19 Championship 2013. Timnas yang dikomandoi Nurhidayat Haris harus merelakan harapan untuk menggapai asa juara setelah menelan kekalahan terhadap Timnas Malaysia, lewat tendangan adu pinalti setelah 90 menit pertandingan berjalan cepat dengan skor 1-1.

Gue nggak akan ngereview pertandingan ya, karena gue yakin kalian udah nonton. Gue juga yakin kalian udah ngerasain sedih, bahkan menangis saat mengetahui kenyataan pahit ini. Lebih sakit daripada diputusin mantan pas lagi sayang-sayangnya kan. Gue mengapresiasi permainan timnas yang keren total. Kalau kata bang Valentino "Jebreeet" Simanjuntak, permainan timnas mampu menjadikan prahara kerusakan rumah tangga tim lawan. Asli men, itu emang bener. Cuma kita kurang beruntung sama lawan lewat tos-tos adu pinalti.

Di adu pinalti itu, 3 dari 5 eksekutor Indonesia kurang beruntung untuk menyarangkan bola ke gawang kiper lawan. Sedih memang. Ada sedikit kekecewaan. Tapi ya, game is the game, bro. Menang kalah itu biasa. Menang kalah juga kita harus tetap mendukung, kalau kita emang cinta. Lhawong Jerman yang juara bertahan aja nggak lolos grup kok. Apalagi Italia sama Belanda yang cuma jadi silent reader.

Oke balik lagi bahasan. Setelah pertandingan berakhir, tampak jelas air mata 3 eksekutor itu menetes dan tak terbendung lagi. Witan Sulaiman, Firza Andika, Hanis Sagara tak malu lagi untuk meneteskan air mata di tengah lapangan, dihadapan jutaan pasang mata seluruh supporter Indonesia. Meskipun demikian, perjuangan mereka sudah sangat hebat. Mereka (dan punggawa timnas lain) patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya, karena telah membawa Indonesia hingga menjadi semifinalis di ajang bergengsi sepak bola U19 ASEAN.  

KITA HARUS MENGAPRESIASI PERJUANGAN MEREKA.

Tapi bukan netizen kalau berbuat datar-datar saja. Lebih tepatnya, netizen Indonesia. Udah tahu perjuangan melangkah ke semifinal dengan jadwal yang padat itu berat, eh malah dibully habis-habisan gara-gara satu kesalahan yang sebenarnya tidak ada yang menginkannya. Entah kenapa, sejuta kebaikan terhapus percuma hanya karena satu kesalahan.

Setelah pertandingan berakhir, gue iseng-iseng buka akun instagram Witan (@witansulaiman_), Firza (@firzaandika11), dan Sagara (@sagaraputra10). Dan, mengejutkan men, banyak sekali komentar bullyan, cacian, hinaan, bahkan kata-kata kotor memenuhi kolom komentar ketiga akun tersebut. Menyedihkan. Nah ini gue berhasil meng-capture beberapa bullyan dalam akun Witan, Firza, dan Sagara. Sengaja nama akun nggak gue sensor biar kalian semua tahu siapa tukang bully pejuang lapangan hijau kita. Kalau mau dibully balik atau direport sekalian, gue nggak ngelarang.




























Sedih kan? Itu baru beberapa. Masih banyak yang belum tercapture oleh gue. Sebenarnya apasih yang mereka (netizen) pikirkan?! Apa mereka nggak lihat perjuangan lolos grup yang sempat bikin senam jantung saat lawan Vietnam? Apa mereka juga udah menyamai bahkan melebihi prestasi para pemain timnas sampai ngebully kayak gitu? Umum 19 tahun udah ngapain aja? Seketika gue merasa tua. Atau emang hati mereka udah membatu, udah tertutup? Ah, entahlah.

Perjuangan mereka itu udah berat, bro. Kalian mungkin nggak akan bisa menyamai mereka. Berikan apresiasi setinggi-tingginya. Standing Applause. Berikan juga semangat untuk kompetisi yang akan datang. Berikan juga doa untuk memperlancar mereka. Udah cukup itu doang. Daripada kalian gunakan mulut dan jari kalian untuk membully. Lagian, usia mereka masih sangat muda. Masih sangat panjang waktu untuk belajar dan belajar menjadi lebih keren dari sekarang. Ya emang sih sekarang udah keren. Bayangin saat usia matang untuk pesepakbola, bisa selevel pemain piala dunia. Atau malah membawa Indonesia lolos piala dunia. Aamiin. Semoga.

Ayolah berikan apresiasi setinggi-tingginya. Bukan hanya pemain timnas, tapi pada siapapun selama dia telah melakukan yang terbaik. Nggak susah kan cuma bilang "Wah, mainmu tadi udah keren banget. Tetap semangat walau gagal. Hari ini gagal, besok 10 kali keberhasilan menjumpai". Lebih enak didengar mana? Tapi kok kayaknya susah banget bilang atau ngetik kayak gitu.

Hilangkan budaya bullying, tanamkan budaya apresiasi. Kan nyaman juga kan kalau saling apresiasi kayak gitu. Saling mendukung. Adem gitu kan rasanya. Tapi, aduh, kenapa masih susah ya.

Ah entahlah.

Maha Benar Netizen Dengan Segala Bacotannya
Salam,


Netizen (yang masih berusaha menjadi baik)

Antara Bowo, TikTok, dan Netizen Maha Benar

Bowo TikTok
Sumber gambar: tribunnews.com

Siapa dari kalian yang nggak tahu Prabowo Mondardo, atau yang lebih dikenal dengan Bowo Apenliebe (ini bener kan tulisannya kayak gini?)? Mungkin gue nggak perlu nyeritain siapa dia dan darimana asalnya, karena gue yakin kalian semua sudah tahu, yang jelas dia lagi viral beberapa waktu yang lalu hingga saat ini. Nah, konon si Bowo sang artis TikTok ini viral karena mengadakan meet and greet berbayar untuk para fansnya yang notabene masih berusia anak-anak alias abg. Nah buat dateng ke acara M&G ini konon katanya dipasang tarif yang cukup mahal untuk seusia para fansnya.

Sebelum gue bahas lebih lanjut, gue klarifikasi dulu kalau gue bukan dipihak manapun. Gue nggak pro sama Bowo maupun kontra sama Bowo. Gue netral sih. Gue bebas-aktif, nggak pihak blok barat dan blok timur. Helah....

Oke gue lanjutin, gue nggak masalahin dia mau jadi artis kek, mau ngadain M&G kek, atau mau kayak gimana, gue nggak mau komentar. Gue cuma nyorotin perilaku para netizen yang maha benar dan maha dewa. Wahai netizen maha benar yang terhormat......

Gue mau heran, kok sampai segitunya para netizen melakukan bullying terhadap Bowo. Apakah pantas seorang anak usia 12 tahun menerima cemoohan dan hinaan seperti itu? Apasih salahnya Bowo?

Bowo mau ngadain M&G berbayar itu urusan dia, itu juga cara dia buat monetisasi diri dan karyanya. Sama kayak blog dan situs-situs ternama yang meletakkan iklan, itu juga cara monetisasi blog dan situs (termasuk gue, klik iklan gue dongs, ehehe). Sama juga kayak ngundang vlogger buat ikut acara kita, ya kita bayar. Itu juga monetisasi. Kata lain dari motesisasi itu kayak memberikan penghargaan berupa materi terhadap suatu karya. Dan menurut gue itu sah-sah aja.

M&Gnya mahal sampai ada adek kalian atau anak kecil yang marah-marah minta duit ke orang tua? Kalau ini sebenernya simple, cukup nasehatin atau larang keluarga kalian dateng ke M&G itu kalau emang kalian nggak suka, dan kalian nganggep itu kemahalan atau pembodohan atau apalah. Cukup larang dateng ke sana. Simpel kan. Itu kayak kalian ngopi di cafe mbak-mbak ijo. Bagi sebagian orang bakalan nikmat ngopi disana, meskipun mahal. Kalau kalian nggak suka atau ngerasa kemahalan, ada opsi buat nggak kesana kan? Nggak perlu sampai ngebully cafe itu kan?

Gara-gara Bowo, adek kalian atau anak kecil kecanduan main TikTok sampai nggak mau belajar? Ya itumah salah kalian sendiri. Masa iya, anak kecil seumuran anak SD-SMP udah dipegangin HP? Kan salah sendiri itu. Kenapa nggak dilarang, atau minimal dibatasi lah? Tinggal dipengaruhin aja sama betapa asyiknya aktivitas diluar, kayak main bola sampai adzan maghrib gitu. Jadi keeinget gue waktu kecil.

Jadi, apa salah dan dosaku sayang *sambil nyanyi ala mbak via dan mbak nella*. Apasih salah dan dosa Bowo sampai segitunya kalian membully, wahai netizen yang maha suci? Inget ya, Bowo itu masih 13 tahun. Masih terlalu dini membaca dan mendengar umpatan kasar, apalagi yang tertuju padanya. Dia kan hanya mengekpresikan dirinya melalui suatu karya. Dia hanya ingin berkarya. Ya, gue nyebut itu karya. Mungkin bagi sebagian orang karya itu terlalu jelek atau gimana, sesungguhnya itu hanya masalah selera. Jujur ketika gue lihat ada video TikTok, gue ngerasa ah apaan sih kayak gini, nggak jelas. Tapi gue masih nyebut itu karya. Sama seperti karya-karya lain yang hanya masalah selera untuk menyukainya. Mungkin kalian bakal nyebut puisi kontemporer Sutardji C. Bahri dan Sapardi Djoko Damono itu jelek kalau kalian emang nggak suka sama puisi kontemporer. Kalian juga bakal nganggep novelnya Raditya Dika jelek kalau kalian emang nggak suka bacaan bercandaan. Simpel, itu hanya masalah selera. Kalian juga bakal nganggep blog ini jelek, kalau..... jangan deh ya, jangan kalian nggak suka blog ini. Please, besok kesini lagi.... Jadi, kesimpulannya itu hanya masalah selera yang tak perlu dibesar-besarkan. Biarkan yang suka silakan menikmati, yang nggak suka silakan cari yang kalian suka.

Nah, denger-denger juga, terlepas dari bener atau hoaxnya, Bowo udah nggak sekeloh lagi karena takut dibully. Apakah ini hukuman yang kalian inginkan kepada anak yang hanya ingin berkarya, wahai netizen? Mencerdaskan kehidupan bangsa itu tujuan negara, lho gaes. Bukan main-main itu. Semua pihak harus mendukung. Tapi kenapa kalian sukses menjadikan anak putus sekolah?

Denger-denger juga, ibu dari Bowo juga berhenti dari pekerjaannya untuk menjaga anaknya yang konon para netizen sudah mulai main fisik. Nah ini juga yang kelewatan. Kok ya kalian tega sampai mematikan matapencaharian orang tua Bowo? Orang tua mana juga yang nggak sakit hati anaknya dikata-katain, padahal seumur-umur dia nggak pernah ngata-ngatain anaknya, hah? Heran gue sama orang yang suka bully Bowo!

Sekali lagi, Bowo itu masih usia anak-anak yang nggak pantes buat dapat perlakuan yang tidak menyenangkan kayak gitu. Mental dia masih mental anak-anak yang belum pantes dapat hinaan kasar. Masa depan dia juga masih panjang. Ya, siapa tahu dari TikTok membawanya ke dunia kreatif lain, seperti vlogger Youtube ternama kayak Arief Muhammad ataupun Gita Savitri. Ya, kemungkinan itu ada kan.

Sekian dari gue. Stop Bullying. Kalau kalian emang nggak suka, nasehati diri sendiri dan orang lain secara halus, sebisa mungkin hanya empat mata. Jangan memberikan umpatan, hinaan, cemoohan, atau apalah namanya kepada siapapun, terlebih kepada anak-anak.

Yaps, Say No to Bullying. Stop Bullying, let's be a friend.

Stop Pembulian

Fenomena "Mendadak Miskin", Bangga Menjadi "Orang Tidak Mampu" Baru

Namanya Pak Dono, seorang walikota di sebuah kota besar. Sebagai seorang walikota yang bertanggungjawab, ia ingin melihat tingkat kemiskinan warganya, menanyakan ke Pak Jono.
"Sampai dengan hari ini, tingkat kemiskinan warga di kota ini meningkat pesat, Pak." jawab Pak Jono. "Data menunjukkan angka 45%."
"Lhah, kok bisa? Bukannya bulan kemarin kalau nggak salah hanya 10%?!" Pak Dono kaget.
"Ya wajar, Pak. Bulan ini kan bulan pendaftaran masuk sekolah dan kuliah."
Namanya Pak Eddy, seorang kepala bidang di sebuah perusahaan. Datang ke kantor keluruhan pagi itu bersama anaknya yang akan mendaftar SMA favorit, mengendarai mobil SUV silver keluaran terbaru. Mencari Pak Lurah, tujuannya. Sayang, Pak Lurah belum ada di kantor pagi itu, masih rapat di kota kecamatan. Dia dan anaknya menunggu. Dilihatnya jam tangan impor dari Eropa yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah 2 jam menunggu. Pak Eddy mulai kesal. Orang disebelahnya iseng bertanya hendak apa.
"Mau minta tandatangan Pak Lurah buat SKTM pendaftaran sekolah anak saya." jawabnya.
Namanya Miko, juara lomba biologi antar SMP di kota kabupaten setahun lalu, tinggal di pulau kecil. Dia termenung pagi ini, memandangi ijazah SMP yang ia pegang erat. Ditariknya nafas panjang, kemudian dihembuskan perlahan. Ijazah itu tak akan berguna, pikirnya. Ya, tak berguna. Dia tak dapat melanjutkan sekolah. SMA terdekat ada di pulau seberang. Jangankan melanjutkan SMA di pulau seberang, untuk perjalanan pendaftaran saja tak ada ongkosnya. Sejak ditinggal sang ayah untuk selamanya tiga bulan yang lalu, bekerja adalah prioritas utama untuknya. Sang ibu hanya pencari umbi di desanya. Sementara kedua adiknya yang kembar, masih duduk di bangku sekolah dasar. Melanjutkan sekolah sudah terhapus dari daftar cita-citanya. Lantas air mata membasahi ijazah itu.
*Mohon maaf jika ada kesamaan nama
***
Post ini sengaja saya awali dengan 3 buah cerita fiksi, yang mungkin sebagian dari kalian udah bisa nebak keanehan dalam cerita itu. Itulah potret yang gue amati akhir-akhir ini. Ya, dimasa pendaftaran, baik itu pendaftaran SD, SMP, SMA, maupun Kuliah sekalipun, selalu sama. Fenomena mendadak jadi orang miskin semakin marak terjadi. SKTM atau Surat Keterangan Tidak Mampu seakan udah jadi barang yang paling diidam-idamkan. Padahal, kenyatannya sebagian besar dari pemegang SKTM itu seperti Pak Eddy.

Usut punya usut, kebanyakan orang-orang seperti Pak Eddy memakai SKTM untuk memuluskan jalan anaknya yang daftar di sekolah favorit. Ada kuota tersendiri bagi warga tidak mampu yang ingin melanjutkan sekolah di sekolah tersebut. Nah, orang-orang seperti Pak Eddy ini yang memanfaatkan hal tersebut. Sebagian lainnya, memang menginginkan sekolah gratis dengan surat itu. Hari gini, siapa juga yang nggak pengin gratis? Tapi bagaimana dengan Miko yang seharusnya lebih pantas mendapatkan kuota sekaligus beasiswa itu? Bukannya itu sama aja kayak mendzolimi orang-orang seperti Miko?

Ya, saya agak geram ngeliat para orang tua yang seharusnya tergolong mampu untuk menyekolahkan anaknya, eh malah mengambil hak-hak orang yang lebih membutuhkan. Terlebih lagi yang menggunakan SKTM itu untuk beasiswa kuliah. Dapat beasiswa dengan SKTM, tapi sering ngopi di cafe mewah. Mungkin, bisa jadi si anak yang mandiri dan sudah bekerja paruh waktu untuk "bergaya mewah" tapi mbok ya kalau udah ngerasa mampu, mundur dari beasiswa dengan SKTM tersebut. Karena masih banyak orang yang pantas mendapatkannya.

Bukannya saya iri atau apa, saya cuma "gemas" dengan orang-orang seperti Pak Eddy. Apa ya kalian nggak ngerasa kasihan dengan orang-orang seperti Miko? Apa kalian nggak bersyukur dengan apa yang kalian punya sekarang hingga merasa sebagai yang paling tidak mampu?

Ah, entahlah.....

Download Film Avengers: Infinity War

Marvel kembali meluncurkan film Avengers. Film ini telah tayang perdana di Indonesia pada 25 April 2018 lalu. Dalam sinopsisnya, Iron Man, Captain America, Black Widow, Hulk, dan Thor yang berjuang dalam melawan Thanos. Nah seperti apa keseruan film petualangan para superhero ini?

Avengers: Infinity War

Sinopsis Avengers: Infinity War

Iron Man, Thor, the Hulk and the rest of the Avengers unite to battle their most powerful enemy yet -- the evil Thanos. On a mission to collect all six Infinity Stones, Thanos plans to use the artifacts to inflict his twisted will on reality. The fate of the planet and existence itself has never been more uncertain as everything the Avengers have fought for has led up to this moment.

Pemain Avengers: Infinity War

  • Robert Downey sebagai Tony Stark / Iron Man
  • Chris Hemsworth sebagai Thor
  • Mark Ruffalo sebagai Bruce Banner / Hulk
  • Chris Evans sebagai Steve Rogers / Captain America
  • Scarlett Johansson sebagai Natasha Romanoff / Black Widow
  • Benedict Cumberbatch sebagai Stephen Strange / Dr Strange
  • Don Cheadle sebagai James "Rhodey" Rhodes / War Machine
  • Tom Holland sebagai Peter Parker / Spider-Man  
  • Chadwick Boseman sebagai T'Challa / Black Panther
  • Paul Bettany sebagai Vision
  • Elizabeth Olsen sebagai Wanda Maximoff / Scarlet Witch
  • Josh Brolin sebagai Thanos

Trailer Avengers: Infinity War




Link Download Avengers: Infinity War

Buat kalian yang udah penasaran seperti apa keseruan filmnya, dibawah ini gue kasih link downloadnya. Buruan download sebelum di banned dan di hapus.

Link Download Film Avengers: Infinity War




4 Hal yang Hanya Ada di Indonesia, Bukti Kalau Orang Indonesia itu Unik

Orang Indonesia Bersatu

Kata orang, termasuk orang asing, orang Indonesia itu ramah-ramah. Tak hanya ramah, ternyata orang Indonesia itu unik lho. Ya, unik dalam arti memiliki kebiasaan yang berbeda dengan yang lain. Bisa jadi keunikan ini nggak bakalan kita temui di negara lain. Dan keunikan ini juga yang bikin kangen dan makin cinta Indonesia. Nah, apa aja sih keunikan itu, oke langsung aja nih bukti keunikan orang Indonesia.

1. Makan Mie Pakai Nasi 

keunikan atau berbahaya
Mungkin bagi sebagian orang, ini adalah sebuah kewajaran. Kan biar kenyang gitu. Iya sih emang kenyang. Tapi tahu nggak kalau mie yang terbuat tepung itu juga mengandung karbohidrat, katanya sih melebihi karbohidrat nasi. Sementara nasi juga mengandung karbohidrat. Udah deh, karbo ketemu karbo, terus mereka nikah dan punya anak. He..he..he.. Ya inilah keunikan orang Indonesia yang pertama. Keunikan yang hampir menjadi kewajaran.

2. Gue Belum Makan

junkfood
Ini juga keunikan yang hampir menjadi kewajaran. Kalian pasti punya temen atau malah kalian sendiri yang kayak gini. Padahal ketika itu udah makan bakso, burger, pasta, spagetti, kentang goreng, dan lain sebagainya, atau malah udah makan lontong, kalau belum makan nasi, itu artinya belum makan. Pokoknya kalau belum makan nasi itu belum makan.

3. Apapun Alasannya, Teh Hangat is Everything

 obat herbal alami berbagai penyakit
Ini juga menjadi ciri khas keunikan orang Indonesia. Mau kita masuk angin, nggak enak badan, kecapekan, habis kehujanan, meriang, panas tinggi, bahkan abis kesurupan pun, pasti selalu ada teh hangat sebagai jamuan minum pertama kali. Entah apa sebabnya, teh hangat selalu hadir dalam setiap suka maupun duka. Kalau dipikir-pikir teh hangat lebih setia dari pasangan kamu lho! he..he..he..

4. Apapun Namanya, Sebutannya Tetap "Bensin"



bensin 
Nah ini yang mungkin sudah mendarah daging. Pasti ada aja orang yang ngeluh "Aduh, bensin gue abis" eh tahu-tahunya dia pakai pertamax. "Bentar ya, gue mau isi bensin dulu." eh masuknya ke antrian pertalite. Pokoknya apapun namanya sebutannya tetap aja BENSIN. dan ini juga berlaku buat ODOL. Apapun namanya, sebutannya tetap saja.... bensin dan odol.

Nah mungkin itu dulu ya, hal-hal yang hanya ada di Indonesia. Mungkin jika ada tambahan bisa banget komen, nanti ditambahin, he..he..he..
Hayo kalian yang mana?