[Aksi Malam Jumat #1] Penunggu Lantai Dua

Halo gaes, balik lagi bareng gue, si sandaljepit, kali ini mumpung ini malam jumat (pas nulis ini malam jumat, gaes), jadi yuk saatnya buat Sunnah Aksi Malam Jumat, ehehe.... Jadi, di Aksi Malam Jumat ini gue bakal nyoba buat share cerita mistis dan horor.


Gambar diambil dari Google, hanya ilustrasi

 Di Aksi Malam Jumat #1 ini gue bakalan share salah satu karya yang mungkin bergenre horor, yang sebenarnya udah lama banget gue bikin. Entah udah nginep berapa tahun di laptop, daripada nggak kebaca, mending gue share aja. Oke, langsung aja ya ini ceritanya,

FYI, setting lokasi di cerita ini nyata gaes, berdasarkan kisah gue dan beberapa orang yang pernah gue stalking. Beberapa nama juga ada yang asli, sorry my friend kalo namanya gue catut, ehehe. Tapi ada beberapa bagian yang sengaja gue fiksi-in, biar lebih terasa aja. Dinikmati aja ya gaes :)))

* * *

Penunggu Lantai Dua
“Adik-adik, kalian yang berkumpul di sini adalah orang terpilih sebagai penerus kami dalam organisasi Paskibra. Organisasi ini bukan hanya sekadar organisasi pelengkap di SMA kita tercinta. Kita di sini adalah organisasi yang harus bisa mencerminkan sikap sesuai Pancasila. Putar roda persatuan dan kesatuan dengan menjalankan setiap norma dengan sebaik-baiknya. Kalian mengerti?!”
“Siap, mengerti,” jawab tegas pasukan, membelah keheningan lapangan Sabtu sore ini. Seakan telah siap melanjutkan perjuangan.
“Tapi, perjuangan kalian belum usai. Satu perjuangan lagi, jalan malam. Puncak dari jalan malam ini adalah pencarian badge yang akan kalian kenakan. Jalan malam ini rencananya akan diadakan pekan depan. Jelas?!” tegas kak Roy sembari berkeliling diantara pasukan.
“Siap. Jelas!” jawab kompak pasukan.
Aku dan temanku berbaris dengan rapi, layaknya tentara yang siap untuk perang. Tak ada gerakan sedikitpun yang tersampaikan. Semua diam dan memperhatikan setiap kata yang terucap dari mulut sang komandan. Sesekali menjawab dengan penuh ketegasan. Singkat. Jika tak perlu diam. Itu lebih baik daripada menyanggah ucapan Kak Roy. Bisa jadi perjuangan kami berakhir dengan sia-sia. Tes tertulis tentang sekolah dan negara ini, tes fisik yang menguras satu-dua ember penuh keringat, tes wawancara dengan tatapan mata kakak-kakak yang kejam, hingga menahan malu saat kami diberikan tantangan saat mengumpulkan tanda tangan. Ah, aku tak mau itu terbuang sia-sia hanya karena kami berbincang sendiri dan tak acuh atas komando kak Roy. Tak peduli keringat mulai bercucuran di dahi dan pipi.
Ini adalah tiga hari yang lalu, di mana seluruh dari kami dikumpulkan di lapangan. Kini, aku dan seluruh temanku menjalani hari-hari biasa. Belajar di kelas seperti biasa. Riuh saat jam kosong. Ah, semua sudah biasa. Kebetulan pula jam kelima dan enam ini kosong. Asyik!
Sorak-sorai tak terhindarkan lagi. Sudah biasa. Doni dan Ray terlihat asyik bermain game di laptopnya. Siska, Maya, Rani, dan Ayu terlihat obrol sana-sini. Raka pun terlihat tertidur lelap di belakang kelas beralaskan lantai. Sisanya pun asyik dengan teman sebangku dan depan belakangnya. Termasuk aku yang asyik dengan laptopku berseluncur di dunia yang tak pernah ada.
Tiba-tiba pintu kelas bergerak dengan sendirinya. Berusaha membuka namun percuma. Pintu terkunci dari dalam. Siapakah gerangan yang mendorong-dorong pintu? Ah ganggu saja!
Fadli yang sedari tadi duduk di depan bermain dengan laptopnya berdiri dan melangkah menuju pintu. Semua mata tertuju padanya. Diintipnya melalui celah kecil di antara daun pintu. Tangannya seperti menginsyaratkan ada seseorang di luar sana. Seketika kelas menjadi riuh. Doni berusaha secepat kilat menyembunyikan joystick-nya. Putra membangunkan Raka. Siska cs pun merapikan posisi kursi. Ah, berusaha menutupi permainan masing-masing.
Pintu kelas terbuka, masuk seorang guru muda yang tak lain adalah guru BK kami.
“Jam kosong ya?” tanya Bu Devi pelan. Dijawabnya pertanyaan itu dengan anggukan dan jawaban singkat oleh Fadli.
“Nggak, bu! Cuma nggak ada gurunya,” celetuk Fany dari belakang.
“Oke, karena nggak ada gurunya sekaligus jam kosong jadi ibu isi aja, ya?” tanya Bu Devi sembari berjalan menuju tengah kelas.
Hening. Hanya raut kekecewaan yang tercermin dalam roman. Bermurung durja.
Emmm, enaknya kita isi apa ini? Ada yang punya usulan?” lanjut beliau.
“Arti sebuah jam kosong,” jawab kilat Riki dengan lantangnya. Seluruh kelas menyambutnya dengan tawa. Ada-ada saja kau, Rik!
“Jam kosong yang tertukar,” sahut Firman.
“Tidur saja, Bu!” celetuk Raka.
“Kerjaanmu tidur melulu,” sahut Riki. Sahutan jawaban aneh terdengar dari kumpulan bangku cowok.
“Di sini anak cowoknya pada aneh semua ya. Mungkin anak cewek aja kali ya,” tutur Bu Devi.
“Cerita-cerita aja, bu!” usul sebagian anak cewek.
“Cerita apa?” tanya Bu Devi
“Pengalaman sebuah jam kosong,” celetuk Riki lagi.
“Bu, tanya!” Seorang anak cewek berambut panjang berponi mengangkat tangannya. Dengan cepat semua siswa terdiam. Heran apa yang mau ditanyakan Dita.
“Ya, tanya apa, mbak?”
“Kok kamar mandi di sudut samping koridor atas itu nggak pernah dibuka itu kenapa, bu?” tanya Dita. Seketika kelas hening. Penasaran akan jawaban Bu Devi. Memang sejak kami diterima empat bulan lalu, kamar mandi itu selalu terkunci dan tak pernah terbuka. Aneh memang.
“Kalau itu ibu juga kurang tahu. Tapi menurut guru yang sudah lama di sini, katanya kamar mandi itu bocor. Tapi kalau dipikir emang aneh juga sih. Bawahnya kamar mandi dekat koridor atas kan juga kamar mandi tapi kenapa airnya netes di kantor administrasi yang ada disebelahnya. Ibu kurang tahu masalah itu,” jelas Bu Devi.
Seorang anak cowok mengangkat tangan dan berucap, “Tapi katanya kakak-kakak di sana itu ada sebuah perumahan hantu gitu bu.”
“Ah, kamu ini ada-ada saja,” jawab Bu Devi. Seketika kelas mulai bersuara lagi. Bercerita ini-itu tentang kamar mandi itu.
“Sudahlah kalau kayak gitu jangan dipercaya!” jelas Bu Devi.
Riuh mulai terdengar dari kelas. Berbagai cerita saling bersahutan, tak terdengar lagi dengan jelas. Bel pun pula, tak terdengar jelas. Hanya sayup-sayup dari kejauhan.
Aku semakin penasaran akan jawaban Bu Devi. Apakah benar adanya bocor hingga dikunci dan tak pernah terbuka? Lalu apakah benar pula kebocoran itu sampai di ruang administrasi? Ah, tak logis juga kalau dipikir.
“Kal, kantin yuk!” ajak Aji membuyarkan lamunanku.
“Eh, sekarang?”  jawabku kaget.
“Nggak, bro. Tahun depan. Ya sekaranglah!” bentak Aji.
“Hahaha… sorry, kawan!” jawabku dengan candaan.
Kami pun mulai melangkah keluar kelas yang teletak di lantai dua. Namun, baru beberapa langkah dari kelas, pikiranku berubah. Seperti ada yang ingin aku ketahui.
“Ji, kita lurus aja, ya?!” ajakku.
“Lho, kok? Bukannya turun di tangga depan aja? Kalau lurus kan malah mutar.”
“Udahlah lurus aja!” paksaku.
Aji pun mengikutiku untuk berjalan lurus memutar menuju koridor atas. Terus melangkah dan melangkah. Kami pun tiba di depan kantor BK yang artinya tak jauh pula dari koridor atas sekaligus kamar mandi itu. Aku terdiam sejenak. Mengamati pintu yang terkunci. Menatap dalam dan terus menatap.
“Kal, Haikal! Ngapain bengong di sini?” Lagi-lagi Aji membuyarkan lamunanku. Aku hanya bisa terdiam.
“Kau masih penasaran sama kamar mandi ini? Udahlah nggak usah dipikir. Aku udah tahu banyak cerita-cerita dari kakakku. Katanya emang kamar mandi ini ada sesuatunya. Ya termasuk lantai dua ini. Mulai dari tangga paling sudut, paling ujung sana sampai koridor atas ini dan memutar menuju tangga sudut yang lain. Asal kita tenang nggak ada masalah kok. Dunia mereka kan beda sama dunia kita.”
“Berarti kelas kita juga termasuk?” tanyaku, melangkah pelan menyusul Aji melewati koridor atas.
“Ya begitulah,” jawabnya singkat.
Tak ada percakpaan berarti saat kami mulai turun dari koridor atas, melewati kantor administrasi, komplek kelas dua belas, hingga berjalan menuju kantin sekolah. Kami hanya melangkah dan terus melangkah. Aku terdiam memikirkan semua kata demi kata darinya. Ah, apalagi empat hari lagi aku ada jalan malam. Bagaimana pula jadinya?
***
Sang mentari silih berganti terbit dan tenggelam. Terbit lagi, tenggelam lagi, terbit lagi, dan seterusnya. Tak terasa pula empat hari telah berlalu. Cepat sekali memang. Tak terasa pula ini adalah hari Sabtu dan tak terasa pula jalan malam pencarian badge tinggal menunggu beberapa jam lagi. Bayanganku semakin tak menjadi. Terlebih saat ku ingat kembali ucapan Aji yang telah tercerna. Ah, selalu ada bayangan akan hal itu. Benar-benar sulit dilupakan.
“Kal!” panggil Andre saat istirahat pertama tiba di depan kelasku. Ku mengayalkan langkahku bersama Aji, menoleh kebelakang. Ternyata ia bersama Tya. Semua calon satu organisasiku.
“Ji, kamu duluan aja ke kantinya. Aku ada urusan,” Ujarku.
“Ya deh,” jawab Aji.
Segara ku langkahkan kaki kembali menuju kelasku. Mereka pun maju ke arahku. Hingga kami pun berpapasan.
“Ada apa?” tanyaku.
“Tadi aku ketemu sama kak Roy, katanya habis istirahat ini kita disuruh kumpul di aula,” jawab Tya.
“Siap!”
“Bantuin nyebarin berita ke temen-temen dong!” tambah Andre.
“Lha kalian?”
“Ya biar cepet aja, ayolah! Nanti kalau nggak lengkap kan kita juga yang kena marah. Kamu mau belum dilantik tapi udah mau dikeluarin?!” sahut Tya.
“Ya…ya…okelah!” pungkasku.
Kami pun melangkah ke kelas-kelas teman-teman. Cukup melelahkan memang. Tapi ini demi kekompakan juga. Untunglah beberapa ada di kelas, jadi tak perlu cari ke sana kemari. Namun, beberapa lain tak ada di kelas. Mau tak mau kami harus mencarinya. Terus berjuang demi organisasi dan kekompakan ini. Tak mengapa!
Tak terasa bel masuk telah berbunyi. Berdetang keras menuju sudut demi sudut sekolah. Semua teman calon seorganisasi telah usai diinformasikan. Lelah. Tak ada waktu untuk pergi ke kantin. Bagaimana mungkin, hendak ke kantin saja bel telah berbunyi. Ya, artinya kami harus segera kumpul di aula. Aduh, haus.
“Selamat pagi adik-adik!” buka kak Roy setelah barisan dirapikan. Berbanjar dan bersaf rapi layaknya tentara. Gerah dan haus tak menjadi masalah. Semua tetap siap dan siap.
Dengan kompak, seluruh pasukan yang terdiri dari dua puluh dua orang berkata dengan serentak, “Siap, pagi!”
“Beberapa jam lagi, kalian akan melakukan kegiatan pamungkas audisi pencarian bibit organisasi Paskibra ini. Kalian saya kumpulkan di sini untuk membahas kesiapan kalian mengikuti jalan malam. Sejauh apa kalian menyiapkan kegiatan ini. Antusias-kah atau justru sebaliknya? Kalian tahu, organisasi Paskibra ini adalah melatih kedisiplinan! Sebagai calon petugas tata upacara bendera, kalian harus mempunyai kedisiplinan yang tinggi! Termasuk menyiapkan ini. Kalian mengerti?”
“Siap, mengerti!”
Hening sesaat tak ada suara sedikitpun di teras aula. Jangankan suara, gerakan sedikitpun tak ada pula. Baik dari kami ataupun kakak-kakak dengan tampang sinis yang mengelilingi kami. Benar-benar hening. Sesekali keheningan itu terusik dengan suara decitan sepatu kak Roy yang mondar-mandir mengelilingi kami. Lalu, melangkah menuju kak Citra yang berada di depan pasukan. Berbisik.
“Pagi adik-adik!” pekik kak Citra, kakak senior yang berparas paling cantik diantara lainnya.
“Siap, pagi!”
“Di sini, saya akan bacakan beberapa larangan dan kewajiban barang bawaan kalian!” Dibukanya beberapa lembar kertas HVS itu oleh kak Citra.
“Satu, tidak diperkenankan membawa pakaian ganti, kecuali pakaian dalam. Dari rumah telah memakai kaos hitam dengan celana OSIS.”
“Dua, tidak diperbolehkan membawa kendaraan, majalah apapun, kartu, benda tajam, korek api, alat penerangan, peralatan elektronik, dan uang yang berlebihan.”
“Tiga, dianjurkan untuk membawa obat-obatan pribadi, alat ibadah, alat tidur termasuk alas.”
“Empat, tetap diwajibakan membawa alat tulis lengkap, termasuk materi-materi yang telah diajarkan! Kalian mengerti?” pungkas kak Citra.
“Siap, mengerti!”
“Oke adik-adik, nanti sore pukul tiga tepat, kalian harus sudah sampai di sini. Tak ada ampunan bagi yang terlambat. Mengerti semua?” lanjut kak Roy.
“Siap, mengerti!”
“Kalau sudah mengeti, silakan kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat dan bersiap untuk nanti sore. Daftar izin, silakan diminta di kak Anggun. Oke, langsung saja, komando pasukan saya ambil alih, tanpa penghormatan bubar jalan!”
Kami pun membubarkan barisan. Tak lupa mengambil surat izin dan bersalam-salaman dengan kakak-kakak yang gagah. Lekas melangkah menuju kelas, memberikan surat izin, mengambil tas, dan pulang. Ah, baru kali ini memang aku merasakan pulang lebih awal. Tapi kalau yang ini sama saja. Setengah sebelas pulang, jam tiga harus balik lagi. Ah, tak apa, tak masalah.
***
Jam terus berputar. Dengung alarm membangunkanku dari istirahat siangku. Pukul dua siang. Sebenarnya masih satu jam lagi, tapi untuk packing akhir sekaligus memantapkan diri. Ah, harus mantap dan berani.
Tiga puluh menit berlalu. Semua telah siap. Packing akhir juga tuntas. Semoga saja tak ada yang tertinggal. Saatnya melakukan perjalanan menuju sekolah. Lekas ku kendarai sepedaku. Mengayuh dengan cepat. Aduh, aku takut terlambat. Hei, bukannya tidak diperbolehkan membawa kendaraan? Ah, tak apa, rumah Andre tak jauh dari sekolah, hanya berbilang seratus meter. Mungkin aku bisa menitipkan sepedaku di rumahnya. Semoga saja ia belum berangkat.
Sepuluh menit berlalu, aku tiba di rumah Andre. Ah, untungnya Andre belum berangkat. Syukurlah. Lantas ku minta izin dengannya. Boleh. Dimasukkannya sepedaku ke dalam garasi. Lekas berjalan kaki menuju sekolah bersama.
Tak perlu waktu lama untuk sampai di sekolah. Hanya lima menit saja gerbang sudah di pelupuk mata. Hei, ternyata semua telah kumpul di sana. Terlihat sedang asyik berbincang ini dan itu di samping lapangan tengah.
“Kawan, kami belum terlambat kan?” ujar Andre saat mendekat pada kumpulan teman-teman. Aku masih di belakang Andre mengikutinya.
Asyik berbincang hingga lima belas menit hilang. Berlalu bak kilat. Cepat sekali. Kakak-kakak berjalan membentuk banjar muncul dari joglo di depan lapangan tengah. Semua wajah terlihat sinis. Tak ada senyuman sedikitpun dari kakak-kakak itu. Termasuk pula senyuman kak Citra juga tak ada. Melangkah dengan penuh kesatirisan.
Melihat kakak-kakak itu, kami segera berhamburan berlari menuju lapangan tengah, lekas berbaris dengan sigap.
“Siapa yang nyuruh kalian ngobrol di sana?!” bentak kak Roy.
Hening. Tak ada yang berani menjawab jika sudah begini.
“Gini generasi Paskibra yang baru?! Nggak disiplin!!!”
Lambat laun bentakan itu semakin bersahu-sahutan. Tak ada kakak yang tak membentak kami. Semua turut membentak dan membentak. Ah, benar-benar melatih mental.
Matahari mulai melambaikan tangan tanda ingin berpisah hari ini. Bentakan pun pula ingin berpisah kali ini. Bentakan itu mulai diredakan dengan jadwal kegiatan yang harus kami jalani. Mulai latihan fisik, latihan kekompakan, latihan kedisiplinan, latihan ketegasan, semua harus kami jalani. Seru, namun menakutkan pula. Sekali kami salah, bentakan itu seketika muncul lagi. Benar-benar melatih mental.
Pukul sepuluh malam, kegiatan akhirnya usai. Kami pun diperbolehkan untuk melepas kepenatan dari kegiatan yang benar-benar menguras kekuatan dan stamina hari ini. Lekas kami beristirahat di dua kelas yang telah disediakan. Satu kelas untuk cowok, sementara kelas sebelah untuk cewek. Selamat tidur, semua!
“Pagi, dik!!! Semuanya bangun! Bangun, dik! Ayo bangun!! Nggak usah males-malesan!! Kumpul lapangan belakang sekarang!!!”
“Aduh, kak, aku masih ngantuk. Kenapa pula sampai gebrak-gebrak pintu dan meja?” ujarku dalam hati. Perlahan ku buka mata yang masih terasa berat. Ku lirik jam dinding di kelas. Wahai, ini baru jam sebelas-tiga puluh ternyata. Baru satu setengah jam kami tidur sudah dibangunkan pakai gebrakan meja dan pintu.
Lekas kami segera membangunkan satu sama lain. Merapikan diri seadanya. Tak lupa pula cuci muka. Lantas segera menuju ke lapangan belakang. Astaga, pasti ini saatnya pencarian badge.
“Adik-adik, selamat malam! Kalian tahu alasan kalian dikumpulkan saat ini juga?” ujar kak Roy membuka dan memulai instruksi.
“Siap, malam! … Siap, tahu!” balas kami serempak.
“Bagus kalau kalian tahu. Malam hari ini adalah puncak dari seleksi dan aktifitas kalian selama ini. Pencarian badge Paskibra untuk diri kalian sendiri. Badge telah tersebar di dalam kelas dan di sudut ruang. Mulai dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas, maupun ruangan lainnya dengan jumlah yang tak kurang dan tak lebih. Mekanismenya adalah kalian akan mencari badge ini satu-per-satu. Berjalan menyusuri kelas-per-kelas. Satu orang dengan yang lain diberi tenggang waktu tiga menit. Untuk penerangan, satu lilin yang telah dinyalakan dan tak ada korek api lagi, jadi mau tak mau kalian harus jaga lilin itu supaya tetap hidup. Ada pertanyaan?” jelas kak Roy.
Hening sejenak.
“Siap, tidak!”
“Oke untuk nomor undian jalan malam ini akan diberikan oleh kak Satriyo untuk cowok dan kak Anggun untuk cewek. Cowok nomor ganjil dan cewek nomor genap. Silakan!”
Kak Satriyo dan kak Anggun menyodorkan kepada kami gelas berisi gulungan kertas kecil berisi nomor undian. Semua mengantre mendapatkan nomor undian, termasuk aku. Antrean pun tetap tertib.
“Oh, Ibu, semoga aku tak berada di nomor satu atau nomor pamungkas!” doaku dalam hati.
Tiba-tiba seluruh lampu sekolah padam. Kaget. Hanya ada satu lampu yang masih menyala terang. Lampu di lapangan ini sebagai penerang urutan kami.
“Silakan kalian buka dan susun posisi berdasar nomor urutan!”
Perlahan ku buka gulungan kecil itu. Berdoa dalam hati pun tak lupa. Dan, ternyata… oh, tidak! Mengapa aku harus mengawali jalan malam ini? Pikiranku mulai tak tenang. Aku mulai teringat akan ucapan Aji empat hari lalu.
Kak Roy berkeliling memastikan urutan nomor. Terus melangkah mengitari barisan cowok dan cewek, sembari berucap, “Oke, dik Haikal, yang pertama adalah kamu. Siap?!”
“Siap, kak!” jawabku. Meski detak jantungku kini mulai menjadi-jadi, tapi semua harus ku beranikan.
Segera ku ambil sebuah lilin yang telah dinyalakan. Perlahan mulai maju walau aku tak begitu yakin. Perlahan ku melangkah. Sesekali melihat ke kanan dan ke kiri. Bisa jadi ada badge di sana. Ternyata tak ada. Nihil. Segera ku langkahkan kaki menuju lantai dua.
“…Ya termasuk lantai dua ini. Mulai dari tangga paling sudut paling ujung sana sampai koridor atas ini dan memutar menuju tangga sudut yang lain…”
Mengapa aku harus ingat itu? Tuhan, lindungi hamba-Mu!
Angin dingin mulai berhembus. Api lilin bertiup kesana-kemari. Ku lindungi api itu dengan tanganku. Aduh, badanku merinding sudah. Kini, tangga pojok menuju lantai dua telah di hadapanku. Tak sengaja ku lirik ke arah laboraturium fisika di sebelahnya.
Astaga, sesosok bayangan putih tampak sekejap oleh mataku. Debar jantung semakin kencang. Nafas terengah-engah. Ku percepat langkahku.
Angin berhembus semakin kencang. Api lilinku mati. Gelap. Mau tak mau aku harus berjalan menuju lantai dua dengan kegelapan. Diri ini semakin panik akan hal yang terjadi. Nafas sangat terengah-engah. Dengan memantapkan diri, ku beranikan menaiki tangga menuju lantai dua.
“Tuhan, selamatkan hamba, Tuhan!”
Tangga berbelok. Terus ku naik, hingga kini sampai di dua-per-tiga tangga. Ditangkapnya bunyi langkah sepatu oleh gendang telingaku. Ku pelankan langkahku.
“Sepertinya peserta kedua telah menyusulku,” pikirku.
“Ayo bareng saja!” pekikku dari atas. Namun, saat ku lihat ke bawah, nihil. Tak ada siapa-siapa di sana. Tak karuan lagi betapa merindingnya aku. Saat ku langkahkan kaki naik satu anak tangga, suara sepatu itu mencul lagi. Seperti mengikutiku. Lantas ku percepat langkahku.
Aneh. Lilin yang sedari tadi mati, kini tiba-tiba hidup.
Aku terperanjat. Reflek, tak sengaja aku menjatuhkan lilin beserta wadahnya. Aku berteriak, “Aaaa…”. Namun, tak hanya aku yang berteriak. Terdengar suara wanita juga ikut berteriak dari belakangku. Saat ku tengok ke belakang, nihil. Tak ada siapa-siapa.
Detak jantung semakin tak karuan. Nafas pun pula. Ku percepat langkahku. Sedikit berlari. Sesekali melambatkan langkah, menerangi sekitar, mencari badge.
Angin mulai berhembus lagi. Tanganku tak henti bergetar. Bibirku tak henti melafalkan doa. Aku benar-benar takut malam ini.
Aku mulai mencari ke dalam kelas. Ku beranikan diri memasuki kelas yang gelap nan sunyi. Baru saja ku buka pintu, jendela di hadapanku berdecit, terbuka-tertutup. Tapi di sini kan tak ada angin. Aku pun keluar dengan nafas yang masih terengah-engah.
Aku terus melangkah pelan hingga kini aku sampai hampir di ujung lantai dua. Langkahku semakin pelan. Merinding dengan peristiwa aneh tadi. Mencoba terus berjalan sendirian.
Kamar mandi pojok yang terkunci. Ya, kamar mandi itu kini berada di pelupuk mata. Langkahku semakin kaku. Nafas terengah-engah, detak jantung semakin tak karuan, keringat dingin mulai bercucuran. Ku beranikan menyusuri jalan menuju koridor sekaligus melewati kamar mandi itu. Apa boleh dibuat, badge pun belum ku dapat.
Ku langkahkan kakiku pelan melewati kamar mandi itu. Tiba-tiba ku lihat semburat cahaya terang dari dalam kamar mandi itu. Kaget bukan kepalang. Tanganku menggetarkan lilin, hingga api lilin terombang-ambing. Ku percepat langkahku menuju koridor, lantas menuruni tangga.
Ku melangkah menuruni tangga dengan cahaya seadanya dan perasaan yang tak karuan. Namun, beruntunglah diriku. Badge yang ku cari akhirnya ku temukan juga di pojok anak tangga paling bawah. Uh, akhirnya…!
Lekas ku kembali menuju lapangan dengan langkah cepat. Tak peduli lagi lilin yang mati. Tak peduli juga apapun di sekelilingku.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di lapangan belakang. Hanya berbilang satu-dua menit. Nafas semakin terengah-engah. Keringat kian deras mengalir. Tak sanggup ku berkata sepatah kata pun. Lantas ku tenangkan diriku di bawah pohon kala ku telah sampai di lapangan. Ah, akhirnya aku telah sampai. Setidaknya rasa takut itu telah hilang.
***
Pagi telah menjelang. Matahari mulai menampakkan diri. Semburat sinarnya menerangi kegelapan, menghangatkan sisa malam yang dingin. Kami pun telah berbaris rapi di depan joglo.
“Adik-adik, malam telah berganti siang. Jalan malam pun telah usai. Bagaimana semua telah mendapatkan badge?”
Hening.
“Siap, sudah!
Badge itu pun berhak kalian kenakan mulai besok pagi. Kami ucapkan selamat. Setelah ini silakan kalian bersih diri dan kelas yang kalian tempati. Setelah itu akan diadakan pelantikan,” jelas kak Roy.
“Siap gerak! Bubar jalan!” lanjut kak Roy membubarkan kami.
Perasaan senang mulai tercurah dalam hati. Ah, tak sia-sia juga ternyata. Lekas kami bersih diri dan bersih lingkungan.
Selesai. Lantas kami pun bersiap. Upacara pelantikan yang dipimpin oleh pembina utama Paskibra telah dimulai. Semua mengikuti dengan hikmat. Selesai. Tuntas. Usai. Semua kegiatan telah usai. Semua beramah-tamah.
“Karena kegiatan usai, mari bersenang-senang!” seru kak Roy. Musik telah dibunyikan. Semua larut dalam keceriaan. Kecuali aku. Aku menjauh dari lapangan tengah, lantas duduk di taman.
“Nggak ikut ke sana, Kal?” tanya Tya yang menghampiriku. Lantas duduk di sebelahku.
“Ah, nggak minat. Kurang suka sama yang begitu.”
“Kal, tadi malam, kamu jalan sama siapa?” tanya Tya mengalihkan pembicaraan. Dahiku mengkerut. Bingung akan pertanyaan Tya.
“Aku? Aku sendirian,” jawabku penuh ragu.
“Tapi waktu aku jalan setelahmu, di lantai dua aku lihat kamu dari kejauhan bersama seorang cewek berambut panjang, berpakaian serba putih berjalan di belakangmu. Wanita itu sedang menggendong kucing hitamnya. Siapa itu, Kal?”
Kaget bukan kepalang. Jantung seakan berhenti mendengar kalimat dari Tya. aku rasa aku sendirian, tapi siapa yang berjalan bersamaku?

12/06/2013
***
This entry was posted in

0 komentar:

Post a Comment

Nggak usah sungkan buat nanya atau nulis disini, selaw aja.
Jangan lupa klik iklannya juga ya, buat support kami :)))