Antara Bowo, TikTok, dan Netizen Maha Benar

Bowo TikTok
Sumber gambar: tribunnews.com

Siapa dari kalian yang nggak tahu Prabowo Mondardo, atau yang lebih dikenal dengan Bowo Apenliebe (ini bener kan tulisannya kayak gini?)? Mungkin gue nggak perlu nyeritain siapa dia dan darimana asalnya, karena gue yakin kalian semua sudah tahu, yang jelas dia lagi viral beberapa waktu yang lalu hingga saat ini. Nah, konon si Bowo sang artis TikTok ini viral karena mengadakan meet and greet berbayar untuk para fansnya yang notabene masih berusia anak-anak alias abg. Nah buat dateng ke acara M&G ini konon katanya dipasang tarif yang cukup mahal untuk seusia para fansnya.

Sebelum gue bahas lebih lanjut, gue klarifikasi dulu kalau gue bukan dipihak manapun. Gue nggak pro sama Bowo maupun kontra sama Bowo. Gue netral sih. Gue bebas-aktif, nggak pihak blok barat dan blok timur. Helah....

Oke gue lanjutin, gue nggak masalahin dia mau jadi artis kek, mau ngadain M&G kek, atau mau kayak gimana, gue nggak mau komentar. Gue cuma nyorotin perilaku para netizen yang maha benar dan maha dewa. Wahai netizen maha benar yang terhormat......

Gue mau heran, kok sampai segitunya para netizen melakukan bullying terhadap Bowo. Apakah pantas seorang anak usia 12 tahun menerima cemoohan dan hinaan seperti itu? Apasih salahnya Bowo?

Bowo mau ngadain M&G berbayar itu urusan dia, itu juga cara dia buat monetisasi diri dan karyanya. Sama kayak blog dan situs-situs ternama yang meletakkan iklan, itu juga cara monetisasi blog dan situs (termasuk gue, klik iklan gue dongs, ehehe). Sama juga kayak ngundang vlogger buat ikut acara kita, ya kita bayar. Itu juga monetisasi. Kata lain dari motesisasi itu kayak memberikan penghargaan berupa materi terhadap suatu karya. Dan menurut gue itu sah-sah aja.

M&Gnya mahal sampai ada adek kalian atau anak kecil yang marah-marah minta duit ke orang tua? Kalau ini sebenernya simple, cukup nasehatin atau larang keluarga kalian dateng ke M&G itu kalau emang kalian nggak suka, dan kalian nganggep itu kemahalan atau pembodohan atau apalah. Cukup larang dateng ke sana. Simpel kan. Itu kayak kalian ngopi di cafe mbak-mbak ijo. Bagi sebagian orang bakalan nikmat ngopi disana, meskipun mahal. Kalau kalian nggak suka atau ngerasa kemahalan, ada opsi buat nggak kesana kan? Nggak perlu sampai ngebully cafe itu kan?

Gara-gara Bowo, adek kalian atau anak kecil kecanduan main TikTok sampai nggak mau belajar? Ya itumah salah kalian sendiri. Masa iya, anak kecil seumuran anak SD-SMP udah dipegangin HP? Kan salah sendiri itu. Kenapa nggak dilarang, atau minimal dibatasi lah? Tinggal dipengaruhin aja sama betapa asyiknya aktivitas diluar, kayak main bola sampai adzan maghrib gitu. Jadi keeinget gue waktu kecil.

Jadi, apa salah dan dosaku sayang *sambil nyanyi ala mbak via dan mbak nella*. Apasih salah dan dosa Bowo sampai segitunya kalian membully, wahai netizen yang maha suci? Inget ya, Bowo itu masih 13 tahun. Masih terlalu dini membaca dan mendengar umpatan kasar, apalagi yang tertuju padanya. Dia kan hanya mengekpresikan dirinya melalui suatu karya. Dia hanya ingin berkarya. Ya, gue nyebut itu karya. Mungkin bagi sebagian orang karya itu terlalu jelek atau gimana, sesungguhnya itu hanya masalah selera. Jujur ketika gue lihat ada video TikTok, gue ngerasa ah apaan sih kayak gini, nggak jelas. Tapi gue masih nyebut itu karya. Sama seperti karya-karya lain yang hanya masalah selera untuk menyukainya. Mungkin kalian bakal nyebut puisi kontemporer Sutardji C. Bahri dan Sapardi Djoko Damono itu jelek kalau kalian emang nggak suka sama puisi kontemporer. Kalian juga bakal nganggep novelnya Raditya Dika jelek kalau kalian emang nggak suka bacaan bercandaan. Simpel, itu hanya masalah selera. Kalian juga bakal nganggep blog ini jelek, kalau..... jangan deh ya, jangan kalian nggak suka blog ini. Please, besok kesini lagi.... Jadi, kesimpulannya itu hanya masalah selera yang tak perlu dibesar-besarkan. Biarkan yang suka silakan menikmati, yang nggak suka silakan cari yang kalian suka.

Nah, denger-denger juga, terlepas dari bener atau hoaxnya, Bowo udah nggak sekeloh lagi karena takut dibully. Apakah ini hukuman yang kalian inginkan kepada anak yang hanya ingin berkarya, wahai netizen? Mencerdaskan kehidupan bangsa itu tujuan negara, lho gaes. Bukan main-main itu. Semua pihak harus mendukung. Tapi kenapa kalian sukses menjadikan anak putus sekolah?

Denger-denger juga, ibu dari Bowo juga berhenti dari pekerjaannya untuk menjaga anaknya yang konon para netizen sudah mulai main fisik. Nah ini juga yang kelewatan. Kok ya kalian tega sampai mematikan matapencaharian orang tua Bowo? Orang tua mana juga yang nggak sakit hati anaknya dikata-katain, padahal seumur-umur dia nggak pernah ngata-ngatain anaknya, hah? Heran gue sama orang yang suka bully Bowo!

Sekali lagi, Bowo itu masih usia anak-anak yang nggak pantes buat dapat perlakuan yang tidak menyenangkan kayak gitu. Mental dia masih mental anak-anak yang belum pantes dapat hinaan kasar. Masa depan dia juga masih panjang. Ya, siapa tahu dari TikTok membawanya ke dunia kreatif lain, seperti vlogger Youtube ternama kayak Arief Muhammad ataupun Gita Savitri. Ya, kemungkinan itu ada kan.

Sekian dari gue. Stop Bullying. Kalau kalian emang nggak suka, nasehati diri sendiri dan orang lain secara halus, sebisa mungkin hanya empat mata. Jangan memberikan umpatan, hinaan, cemoohan, atau apalah namanya kepada siapapun, terlebih kepada anak-anak.

Yaps, Say No to Bullying. Stop Bullying, let's be a friend.

Stop Pembulian

2 comments:

Nggak usah sungkan buat nanya atau nulis disini, selaw aja.
Jangan lupa klik iklannya juga ya, buat support kami :)))